Ramadhan dengan Rukyah bukan dengan Hisab.

Ramadhan dengan Rukyah bukan dengan hisab.

Rukyatul Hilal

 

Silakan dicermati dalil-dali berikut dibawah ini.

 

QS. Al Baqarah : 185

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {185}

 

Artinya : Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah : 185)

 

Ayat di atas dapat dipahami bahwa setiap orang Islam yang menyaksikan hilal pada bulan Ramadhan, maka umat Islam sudah diwajibkan berpuasa.

 

QS. Al Baqarah : 189

 

يَسْئَلُونَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {189}

 

Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Al Baqarah : 189)

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Ramadhan, maka beliau mengatakan: ‘Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُوْمُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ

“Dahulu Rasulullah sangat menjaga Sya’ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.” (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.

 

 

عن أبى هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إذا رأيتم الهلال فصوموا و إذا رأيتموه فأفطروا فإن غمي عليكم فصوموا ثلاثين يوما (رواه مسلم)

Artinya : Dari Abu Hurairah, beliau berkata : bersabda Rasulullah SAW, apabila kami telah melihat bulan, maka berpuasalah dan apabila kami telah melihat bulan,maka berbukalah kami. Maka jika bulan tidak terlihat, berpuasalah kamu 30 hari. (HR. Muslim, (Shahih Muslim : 2 ; 763))

عن أبي هريرة فال : ذكر رسول الله صلى الله عليه و سلم الهلال فقال إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن أغمي عليكم فعدوا ثلاثين يوما (رواه مسلم)

Artinya : Dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah SAW, menyebut-nyebut bulan dan beliau bersabda : bila kamu sudah melihat, maka berpuasalah kamu dan bila kamu sudah melihat bulan, maka berbukalah. Kalau bulan tertutup mendung, maka hitunglah genap 30 hari. (HR. Muslim, (Shahih Muslim : 2 ; 763))

عن محمد ابن زياد قال : سمعت أبى هريرة يقول : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمى عليكم الشهر فعدوا ثلاثين يوما (رواه مسلم)

Artinya : Dari Muhammad bin Zaid beliau berkata ; Aku mendengar Abu Hurairah bersabda : Sabda Rasulullah SAW, Berpuasalah kamu karena melihat anak bulan, dan berbukalah kamu karena melihat bulan, maka jika bulan ditutup mendung, hitunglah genap 30 hari. (HR. Muslim, (Shahih Muslim : 2 ; 763))

(وإذا رؤى ببلد لزم حكمه البلد القريب دون البعيد في الأصح) (والبعد مسافة فصر) وقيل البعد باختلاف المطالع قلت هذا أصح والله اعلم) لأن أمر الهلال لا تعلق له بمسافة القصر (قليوبي و عميرة : 2 : 50)

Artinya : Dan apabila terlihat bulan di suatu negeri, lazimlah hukumnya bagi negeri yang berdekatan dan tidak lazim bagi negeri yang berjauhan pada pendapat yang Asah. Dan perkiraan jauh itu adalah musafah qashar (±129 Km). Da ada juga yang mengatakan jauh itu adalah Ikhtilaf mathali’ (perbedaan waktu). Imam Nawawi berkata pendapat inilah yang Asah, Wallahu A’lam, karena perkara hilal tidak ada sangkut pautnya dengan musafah Qashar (Qulyuby wa ‘Amirah : 2 : 50)

(ومن سافر من بلد الأخر إلى بلد الرؤية عيد معهم وقضى يوما) بناء على الأصح وهي مفروضة في الروضة و أصلها و المحرر فيما إذا عيد التسع و العشرين من صومه كما فال في شرح المهذب وإذا أفطر قضى يوما إذا لم إلا ثمانية والعشرين يوما وسكوته في المنهاج عن ذلك للعلم به (قليوبي و عميرة : 2 : 51)

Artinya : Barang siapa yang bepergian dari negeri lain (yang tidak kelihatan bulan) ke negeri yang terlihat bulan, maka orang tersebut (dari yang tidak kelihatan hilal) wajib berhari raya dengan mereka itu (yang kelihatan bulan) dan wajib di qadha (ganti) satu hari. Hal tersebut berdasarkan pendapat yang Asah, yang mana di takdirkan dalam kitab Raudhah dan asalnya Raudhah dan dalam kitab Muharrar, bila mereka ahli (balad rukyah) berhari raya pada hari ke 29 puasa dari negeri yang tidak terlihat bulan, seperti apa yang telah disebutkan dalam kitab Syarah Muhadzzab. Dan apabila orang tersebut (yang tidak kelihatan bulan) wajib baginya mengqadha satu hari, jika puasanya hanya 28 hari. Dalam hal ini Imam Nawawi tidak berkomentar dalam kitab Minhaj karena dianggap sudah ma’lum. (Qulyuby wa ‘Amirah : 2 : 50)

عن عبد الله ابن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : فال الشهر تسع و عشرون يوما فلا تصوموا حتى تروه فإن عليكم فأكملوا العدة ثلاثين (صحيح البخاري : 4 : 567)

Artinya : Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; bulan itu 29 malam. Oleh karena itu janganlah kamu berpuasa hingga kamu melihatnya (hilal). Jika bulan itu ditutup mendung diatas kamu, maka sempurnakanlah 30 hari. (HR. Bukhari (Sahih Bukhary : 2 : 567))

حدثنا شعبة حدثنا محمد ابن زياد فال : سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم أو قال أبو القاسم صلى الله عليه و سلم : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين (رواه البخاري)

Artinya : Telah menyampaikan kepada kami oleh Syu’bah, telah menyampaikan kepada kami oleh Muhammad bin Ziyad, beliau berkata, Aku mendengar Abu Hurairah R.A Berkata, Nabi SAW atau Abu Qasim SAW bersabda : berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu karena melihat bulan. Maka jika ditutupi atas kamu, maka sempurnakanlah hitungan sya’ban 30 hari. (HR. Bukhari (Sahih Bukhary : 2 : 567))

و إذا ثبتت رؤيته ببلد لزم حكمه البلد القريب دون البعيد ويثبت البعد باختلاف المطالع والمراد باختلافها أن يتباعد المحلان بحيث لو رؤى في أجدهما لم يروه الأخر غاليا قاله في الأنوار. وقال التاج ألتبرزي واقره غيره لا يمكن اختلافها في اقل من أربعة و عشرين فرسخا. و نبه السبكى وتبعه غيره على انه يلزمه من الرؤية في البلد الشرق رؤيته في المغربي من غير عكس إذ الليل يدخل في البلد الشرقية فبل. وقضية كلامهم انه متى رؤى شرقي لزم كل غربي بالنسبة إليه العمل بتلك الرؤية وان اختلف المطالع (إعانة الطالبين: 2: 219)

Artinya : Dan apabila ternyata ada kelihatan hilal di suatu ngeri, maka lazimlah hukumnya bagi negeri yang dekat dan tidak berlaku bagi negeri yang berjauhan. Dan nyatalah jauh dengan ikhtilaf mathali’ (perbedaaan waktu). Menurut pendapat yang Ashah yang dimaksudkan dengan pendapat ialah berjauhan dua tempat, sekira dilihat hilal pada satu tempat, tidak kelihatan pada satu tempat lagi menurut kebiasaan. Hal itu disebutkan dalam kitab al Anwar. Dan berkata Tajul Tabrizi dan diakui oleh ulama-ulama lain. Tidak mungkin terjadi Ikhtilaf Mathali’ (perbedaan waktu) pada jarak jauh yang kurang dari 24 farsakh, dan Imam Subki memberitahukan, serta diakui oleh ulama lain bahwasanya lazim daripada kelihatan hilal di bagian timur kelihatannya hilal di bagian barat dan tidak sebaliknya. Karena masuk malam di sebelah timur lebih cepat daripada masuk malam di sebelah Barat. Adapun maksud pendapat mereka ialah kapan-kapan terjadi hilal di sebelah timur lazimlah bagi semua orang di sebelah barat beramal dengan rukyah tersebut, sekalipun ikhtilaf mathali’ (berbeda waktu). (I’anatuth Thalibin : 2 : 219)

(قوله وان اختلاف المطالع) قال في التحفة بعده. وفيه منافة لظاهر كلامهم وبوجه كلامهم بأن اللازم إنما هو الوجود لا الرؤية إذ قد بمنع منها مانع والمدار عليه لا على الوجود (إعانة الطالبين : 2 : 219)

Artinya : (Katanya (Fathul Mu’in) sekalipun ikhtilaf mathali’) berkata beliau dalam kitab Tuhfatul Muhtaj sesudahnya dan dijelaskan pendapat mereka; yang dimaksud dengan lazim disini adalah lazim wujud bukan lazim rukyah, karena terkadang ada yang menghalangi maka tidak terjadi rukyah, padahal perjalanan hukum ialah atas rukyah bukan atas Wujud. (I’anatuth Thalibin : 2 : 219)

(قوله دون البعيد) أي لما رواه مسلم عن كريب قال: رأيت الهلال ليلة الجمعة بالشام ثم قدمت المدينة. فقال ابن عباس, متى رأيتم الهلال …؟ قلت ليلة الجمعة. قال : أنت رأبت …؟ قلت نعم ورآه الناس و صاموا وصام معاوية فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل العدة فقلت, أو نكتفي برؤيته معاوية وصامه …؟ قال: لا, هكذا ه أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم (إعانة الطالبين: 2: 219)

 

Artinya : (katanya (Fathul Mu’in) tidak berlaku bagi negeri yang berjauhan karena hadits yang diriwayatkan Muslim dari Kuraib, beliau (Kuraib) berkata aku melihat hilal pada malam Jum’at di negeri Syam kemudian kemudian aku kembali ke Madinah di akhir tahun, lalu Ibnu Abbas berkata kepadaku, kapan kamu melihat bulan ..? aku menjawab pada malam Jum’at. Ibnu Abbas bertanya lagi; engkau melihatnya …? jawabku ya dan orang-orang laipun melihatnya, lalu mereka berpuasa dan Mu’awiyah pun ikut berpuasa. Ibnu Abbas berkata lagi, tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka tetaplah kami berpuasa hingga kami sempurnakan hitungan. Maka aku bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah kamu tidak mencukupkan dengan rukyah Mu’awiyah dan puasanya (sebagai pedoman) ..? jawab beliau, tidak, demikian perintah Rasulullah SAW kepada kami. (I’anatuth Thalibin : 2 : 219)

(وإذا روئي ببلد لزم حكمه القريب) قطعا لأنهما كبلد واحد (دون البعيد في الأصح) لخير مسلم عن كريب استهل على رمضان و أنا بالشام فرأيت الهلال ليلة الجمعة فراه الناس فصام معاوية ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فأخبرت ابن عباس بذالك فقال : لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين,فقلت أو لا نكتفي برؤيته معاوية..؟ فقال: لا, هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه و سلم (إعانة الطالبين: 2: 219)

Artinya : (Dan apabila terlihat hilal pada satu negeri lazimlah hukumnya bagi negeri yang berdekatan) sepakat ulama, karena kedua negeri itu pada satu hukum (tidak berlaku bagi negeri yang berjauhan pada pendapat yang ashah) berdasarkan hadits Muslem dari Kuraib ‘Masuklah bulan suci Ramadhan pada hal aku berada di negeri Syam, maka aku melihat hilal pada malam Jum’at dan banyak orang lain yang ikut melihatnya. Maka berpuasalah Mu’awiyah. Kemudian aku kembali ke Madinah di akhir bulan, lalu saya sampaikan hal tersebut kepada Ibnu Abbas, beliau berkata; akan tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka tetaplah kami berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari. Lalu saya bertanya kepada beliau, apakah tidak kita cukupkan saja dengan rukyah Mu’awiyah ..? beliau menjawab, tidak..! demikian Rasulullah memerintahkan kami.

(و البعيد مسافة القصر) لأن الشرع اناطابها كثرا من الأحكام واعتبار المطالع بحوج إلى تحكيم المنجمين و قواعد الشرع نائباه (باختلاف المطالع قلت هذا أصح والله اعلم) لأن الهلال لا تعلق له بمسافة القصر ولأن المناظر تختلف باختلاف المطالع والعروض فكان اعتبار ها أولى و تحكيم المنجمين. إنما يضر في الأصول دون التوابع كما هنا. و المراد باختلافها أن يتباعد المحلان بحيث لو رؤى في احدهما لم ير في الأخر غالبا (تحفة المحتاج : 3 : 280-281)

Artinya : Dan dimaksud dengan negeri yang berjauhan adalah jarak jauh yang berlaku qashar Shalat (± 129 KM) karena syara’ menghubungkan kebanyakan hukum dengan musafah Qashar dan menghitung mathali’ itu memerlukan keterangan ahli ilmu bintang, sedangkan aturan syara’ tidak menginginkan hal itu. (dan dikatakan orang; berjauhan itu diperkirakan dengan ikhtilaf mathali’ (perbedaan waktu), (saya (Imam Nawawi) berkata ini Ashah, Wallahu A’lam) karena hilal itu tidak ada sangkut pautnya dengan musafah qashar dan karena semua pandangan itu berbeda dengan ikhtilaf mathali’ (perbedaan waktu) ialah berjauhan dua tempat, sekiranya dilihat hilal pada suatu tempat, tidak terlihat pada tempat yang lain menurut kebiasaan. (Tuhfatul Muhtaj : 3 : 380-381)

عن كريب أن أم الفضل بنت الحارث بعثه إلى معاوية بالشام قال مت الشام فقضيت حجاتها واستهل على رمضان و أنا بالشام فرأيت الهلال ليلة الجمعة ثم قدمت المدينة في أخر الشهر فاسألني ابن عباس رضي الله عنه ثم ذكر الهلال, فقال : متى رأيتم الهلال …؟ فقلت ليلة الجمعة فقال أنت رأته …؟ فقلت نعم و رآه الناس و صاموا و صام معاوية: فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه فقلت أو لا تكتفي برؤيته معاوية و صيامه..؟ فقال: لا, هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه و سلم (صحيح مسلم: 2: 765)

Artinya : dari Kuraib; Bahwasanya Ummul Fadhal binti Harits mengutus beliau (Kuraib) kepada Mu’awiyah di Negeri Syam, untuk sesuatu keperluan, beliau (Kuraib) berkata : datanglah saya ke negeri Syam maka setelah saya selesaikan keperluan Ummul Fadhal dan Masuklah bulan suci Ramadhan sedang saya masih berada di negeri Syam, maka saya melihat hilal pada malam Jum’at kemudian saya kembali ke Madinah pada akhir bulan. Lalu abdullah bin Abbas bercerita tentang bulan dan beliau bertanya kepada saya, kapan kalian melihat bulan ..? maka saya menjawab kami melihat bulan pada malah Jum’at, beliau bertanya lagi; engkau melihatnya …? jawab saya ya, juga orang lainpun ikut melihatnya dan mereka berpuasa, serta Mu’awiyah juga ikut berpuasa. Ibnu Abbas berkata ; tetapi kami melihat bulan pada malam Sabtu dan tetaplah kami berpuasa hingga kami sempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal. Lalu saya bertanya kepada beliau (Ibnu Abbas), apakah tidak kita cukupkan saja dengan rukyah Mu’awiyah dan puasanya (untuk menjadi pedoman) kita ikut..? beliau menjawab, tidak..! demikian Rasulullah memerintahkan kami.
Dan Yahya bin Yahya merasa ragu tentang kalimat engkau cukupkan atau kita cukupkan ..? (HR Muslim. (Sahih Muslim : 2 : 765 pada kitab Shahihain))
Berbicara tentang Idul Adha, tentang penentuan hari raya Idul Adha tidaklah harus mengikuti waktu wuquf di arafah / mengikuti waktu Saudi Arab, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi adalah 4 jam lebih cepat Indonesia, sehingga tidaklah mungkin waktu berjalan mengikuti waktu yang belum datang.
Berpuasa / berhari raya dengan hisab tidak ada dasar hukumnya, mari kita perhatikan dalil-dali dibawah ini :

وقد قال البجي فى الرد على من قال انه يجوز للحاسب و المنجم وغيرهما الصوم والإفطار إعتمادا على النجوم. ال إجماع السلف حجة عليهم. وقال ابن بزيزة هو مذهب باطل (سبل السلام : 2 : 152)

Artinya : dan sesungguhnya telah berkata imam Banji dalam menolak perkataan orang yang mengatakan bahwa saya boleh bagi tukang hisab dan tukang nujum (ahli bintang) dan lain-lain untuk masuk puasa dan berbuka berpegang kepada nujum bahwasanya kesepakatan ‘Ulama-ulama salaf (Ijma’) menolak mereka. Dan berkata Imam Bazizih bahwasanya ini (puasa dengan hisab dan nujum) adalah mazhab yang batil. (Subulussalam : 2 : 152).

والجواب الوضح عليهم ما أخرجه البخاري عن إبن عمر انه صلعم قال إنّا أمة أمية لا نكتب و لا نحسب الشهر هكذا هكذا (رواه البخاري)

Artinya : Jawab yang terang untuk mereka adalah hadist yang diriwayatkan imam Bukhari dari Ibnu Umar, bahwasanya kami adalah umat yang ummy yang tidak menulis dan tidak berhitung. Bulan itu adalah begini-begini (HR. Bukhari (Shahih Bukhari: 1:251)).

وقد ذهب قوم الى الرجوع الى اهل التسيـير فى ذلك وهم الرفضى (فتح الباري : 5 : 29)

Artinya : Dan ada fatwa satu kaum bahwa untuk menentukan bulan itu dengan tasyir (hisab perjalanan bulan dan bintang-bintang) orang itu adalah kaum Rafidhi (fathul Bari : 5:29) kaum Rafidhi itu ialah kaum syi’ah yang sesat.

لاقول منجم وهو من يعتمد النجم و حاسب وهو من يعتمد منازل القمر و تقدير السيرة ولا يجوز لأحد تقليدهما (إعانة الطالبين: 2 : 217)

Artinya : Tidak boleh dipegangi perkataan tukang hisab dan tukang bintang dan tidak boleh juga seseorang bertaklid kepada orang-orang itu. (I’anatut Thalibin : 2 : 217)

ولا يجب الصوم بقول المنجم ولا يجوز (الإقناع : 1 : 202)

Artinya : Tidak wajib masuk puasa dengan perkataan ahli bintang (ahli nujum) bahkah tidak boleh (al-Iqna’ : 1 : 202)

ومن قال بحاسب المنازل فقوله مردود بقوله صلى الله عليه وسلم في الصححين إنّا أمة أمية لا نكتب و لا نحسب الشهر هكذا هكذا. قالوا ولأن الناس لو كلفو بذالك ضاق عليهم للأنهم لا يعرفون الحساب الا أفراد من الناس فى البلدان الكبار ((المجموع : 2 : 270)

Artinya : Barang siapa memfatwakan masuk puasa dengan hisab manzil, maka perkataannya itu ditolak dengan ucapan nabi bahwa kami adalah umat yang ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghisab. Ahli-ahli fiqh berkata : kalau dibebani manusia dengan hisab, sesungguhnya akan menyulitkan sekali, karena yang tahu hisab itu hanya beberapa orang di dalam negeri yang besar-besar saja. (Syarah Muhadzzab : 6 : 270)

 

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya: Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Berpuasalah karena kamu melihat hilal, dan berbukalah karena kamu melihat hilal. Jika kamu terhalang oleh kabut, maka sempurnakanlah jumlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhari)
Secara jelas hadis di atas menerangkan kepada kita bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan atau Syawal adalah dengan rukyah. Jika tidak dapat rukyah karena langit terhalang mendung, umat Islam cukup menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ

Artinya: Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi yang tidak dapat menulis dan menghitung. Jumlah bulan ini seperti ini dan seperti ini dan seperti ini, maksudnya, satu bulan terkadang jumlahnya dua puluh sembilan hari dan kadang kali tiga puluh hari”.
Hadis di atas menerangkan bahwa umat Islam adalah umat yang tidak dapat membaca dan menghitung. Untuk itu sebagai sarana termudah terutama untuk mengetahui awal bulan adalah dengan cara rukyah.

َقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Artinya: Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian semua berpuasa sehingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihat hilal. Jika hila tertutup awan, maka hitunglah bulan itu”.
Hadis-hadits di atas dapat dipahami bahwa puasa dilarang sebelum hilal benar-benar dapat dilihat.

 

Dalam hadis di atas menggunakan huruf lâm nahiy yang berarti larangan. Sementara dalam kaidah ushuliyyah dikatakan:

Larangan menunjukkan makna haram, kecuali jika terdapat indikasi. Imam al-Sindi memberikan catatan bahwa dengan hadis ini menerangkan haramnya puasa sebelum melihat hilal dan tidak ada kewajiban puasa sebelum hadirnya hilal.
Dalil Aqli
Puasa adalah ibadah, sebagaimana shalat dan haji. Sementara waktu ibadah sudah ada keterangannya yang jelas dari Syariat. Dengan demikian, menggunakan ilmu hisab dalam hal yang berkaitan dengan ibadah tidak dibenarkan.
Syarat sahnya rukyat:

  1. Dilaksanakan saat keadaan udara cerah dan tidak ada penghalang apapun (faktor-faktor lain yang menyebabkan tidak dimungkinkan bulan terlihat)
  2. Harus diperhitungkan juga tempat yang digunakan untuk melihat dan mengamatinya. Begitu juga diperhitungkan ketinggian tempat tersebut.
  3. Orang yang melihat harus orang yang adil, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Syari’at.
  4. Matanya harus dalam keadaan sehat.
  5. Dia harus orang yang sudah terlatih di dalam masalah ini, paling tidak dia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
  6. Tidak dipengaruhi faktor-faktor kejiwaan yang mengganggu proses pengamatan.

Demikian kiranya tulisan yang singkat ini, semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Amin Ya Rabbal ‘alamin, Ya Mujibas Sa-ilin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s