Niat Shalat dan Pembahasannya.

Niat

 

 

Niat

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَـالُ بِالنِّـيَّاتِ

Yakni tiada sah segala amal itu melainkan dengan niat.

 

Haqiqat Niat adalah

قَصْدُ الشَّيْئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ

Haqiqat menyahaja sesuatu halnya beserta dengan berbuat dia.

 

Maka jika terkemudian atau terdahulu perbuatan itu daripada menyahaja, maka tiada shah niatnya. Tempat niat itu didalam hati, dan masa berniat itu pada permulaan ibadat melainkan puasa fardhu.[1]

 

Secara umum pada niat mesti ada :

  1. Qashad yakni lafazh Ushalliy artinya sengaja aku sembahyang
  2. Ta’radh yaitu menyebutkan fardhu
  3. Ta’yin yaitu menentukan waktu seperti dhuhur, ‘ashar, maghrib, ‘isya atau shubuh.[2]

 

Fungsi qashad untuk membedakan antara pekerjaaan adat dengan pekerjaan ibadat. Ta’radh untuk membedakan antara fardhu dan sunat. Ta’yin untuk membadakan dengan waktu lainnya.[3]

 

Jika shalat berwaktu seperti dua hari raya, wudhu’, gerhana, maka wajib dalam niat itu adalah Qashad dan Ta’yin tidak Ta’radh.[4]

Jika adalah sembahyang itu sunat yang tiada berwaktu dan tiada bersebab yaitu yang dinamai sembahyang sunat muthlaq (seperti sunat tahiyyatul masjid, sunat ihram, sunat istikharah, sunat thawaf, sunat wudhu’), maka wajib didalam takbiratul ihram itu satu perkara jua, yaitu qashad.[5]

 

Jika niat shalat jum’at, maka mesti ditambah dalam niat itu, yaitu :[6]

  1. Menjadi nomor empat, meniatkan mengikut imam, jika ia menjadi makmum atau berniat imam jika ia menjadi imam. Jika tiada berniat mengikut imam didalam takbir sembahyang Jum’at, atau tiada berniat jadi imam, niscaya tiada shah jum’atnya.

 

Dan jika ada sembahyang itu qashar, maka wajib pula

  1. Meniatkankan qashar. (menjadi nomor empat)

 

Niat itu dibagi empat :[7]

  1. Niat Basithah, yaitu memulai niat dalam hati serta selamanya daripada takbirnya, menyusun lafaz serta maknanya.
  2. Niat Tauzi’iyah, yaitu membahagikan niat itu daripada suku-suku takbir, dari pada ashal hingga Allahu Akbar.
  3. Niat ‘Urfiyah, yaitu bahwa menghadhirkan ia pertama-tama dzat sembahyang dengan qashad, ta’radh dan ta’yin terdahulu sedikit daripada takbir. Maka dimulai niat itu daripada Alif Allah dan disudahi dengan Ra’ Akbar. Jangan terdahulu dan jangan terkemudian daripada Ra’ Akbar.
  4. Niat Kamaliyah, yaitu masuk ia pada Niat ‘Urfiyah jua, karena niat ‘urfiyah itu tiga derajat dalamnya. Sesuatu
    1. Daniy, yaitu segala yang wajib pada syara’ dikerjakan memadai akan dia
    2. Wasthiy, yaitu yang sempurna
    3. Qashwiy, yaitu yang terlebih sempurna daripada yang amat sempurna. Yaitu Niat Nabi dan Waliyullah yang memakai dia

 

Niat yang shah adalah Niat ‘Urfiyah dan Kamaliyah sedangkan Niat yang bathal adalah Niat yang Basithah dan Tauzi’iyyah.

 

Niat itu dibagi tiga :[8]

  1. Muqaranah Kamaliyah, adakala
  2. Tafshiliyah dan adakalanya
  3. Jamaliyah

Yaitu menghadhirkan ia akan sekalian rukun sembahyang yang tiga belas dengan satu-satu dan barang yang wajib ta’radh dengan dia pada Allahu Akbar hal keadaannya beserta Alif Allah hingga Ra’ Akbar. Inilah yang diamalkan pada sekalian manusia dan sekalian negeri besar-besar dan kecil dan sekalian masa dahulu dan sekarang dan dari karena inilah panjangkan Allahu Akbar sampai mudah menghadhirkan niat padanya. Bersalahan takbir intiqalat, maka yaitu sunat memanjangkan dia sekira-kira tiada keluar daripada 7 alif dan 14 baris. Kata setengah ulama sekira-kira tiada keluar daripada daripada Mad pada Quran yaitu 3 alif dan 6 baris. Dan tempat yang dipanjangkan itu pada lafazh Allahu jangan pada lafazh Akbar.

  1. Muqaranah Basithah. Arti Basithah itu seperti yang mengata akan dia oleh Syihabuddin Qalyubiy dalam Hasyiayah Mahally bahwa mengqashadkan ia akan perbuatan sembahyang pada ALLA umpamanya pada HU dan zhuhur dan lainnya pada HU dan niat FARDHIYAH pada AKBAR atau QASHAD itu pada ALLA dan fardhu pada HU dan DHUHUR atau lainnya pada AKBAR. Dan dinamai pula Muqaranah Basithah ini akan Muqaranah Tauzi’iyyah karena arti tauzi’iyyah itu bersuka-suka. Dan sudah engkau lihat bahwasanya bersamaan dengan arti Basithah.
  2. Muqaranah ‘Urfiyah.

 

Niat Muqaranah Akmaliyah adalah yang dipegangi oleh Syaikh Ibnu Hajar dan Syaikh Ramli, dan Imam Nawawi dan Syaikh Islam dan lainnya dalam Tuhfah dan Nihayah dan Minhaj dan Fathul Wahab dan Mufti lainnya.[9]

 

Syarat pada niat ada enam.[10]

  1. Menyahaja berbuat sembahyang
  2. Menyatakan yang sembahyang itu seperti dhuhur atau ‘ashar atau lainnya
  3. Menta’radhkan suatu fardhu daripada segala fardhu
  4. Menta’radhkan keadaan ada’ (tunai) daripada Qadha’
  5. Niat itu didalam hati
  6. Beserta ia daripada pertama takbir berkekalan higga akhirnya.

 

Oleh Tgk. Nawawi Hakimis

Pimpinan Pon Pes / Dayah Nihayatul Muhtaj,

Tangan-tangan, Aceh Barat Daya.

===

Pembahasan sejenis ini pernah dimuat pada https://www.facebook.com/photo.php?fbid=634221686592548&set=a.507907069224011.138452.100000141685474&type=3&theater

dan di https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150170342983464

[1] Perukunan Besar, Bagi Haji ‘Abdur Rasyid Banjar, Cet. Muhammad Sa’ad bin Nabhan wa Awladuhu. Hal. 23

[2] Hidayatul ‘Awam oleh ‘Allamah Jalaluddin anak ‘Arif Billah Jalaluddin. Cetak bersama Jam’ul Jawami’il Mushannafat (Kitab lapan). Cet. Hikmah Keluarga, Semarang. Hal 11.

[3] Perukunan Besar, Bagi Haji ‘Abdur Rasyid Banjar, Cet. Muhammad Sa’ad bin Nabhan wa Awladuhu. Hal. 25

[4] Hidayatul ‘Awam oleh ‘Allamah Jalaluddin anak ‘Arif Billah Jalaluddin. Cetak bersama Jam’ul Jawami’il Mushannafat (Kitab lapan)., Cet. Hikmah Keluarga, Semarang. Hal 12.

[5] Perukunan Besar, Bagi Haji ‘Abdur Rasyid Banjar, Cet. Muhammad Sa’ad bin Nabhan wa Awladuhu. Hal. 25

[6] Perukunan Besar, Bagi Haji ‘Abdur Rasyid Banjar, Cet. Muhammad Sa’ad bin Nabhan wa Awladuhu. Hal. 24

[7] Mau’izhatun Linnas, oleh (tidak disebutkan nama pengarang). Cetak bersama Miftahul Jannah. Cet. Sumber Keluarga, Semarang. Hal 27.

[8] Kasyful Kiram, oleh Muhammad Zain bin Al Faqih Jalauddin Al Asyiy. Cetak bersama Jam’ul Jawami’il Mushannafat, Cet. Hikmah Keluarga, Semarang. Hal 34.

[9] Perukunan Besar, Bagi Haji ‘Abdur Rasyid Banjar, Cet. Muhammad Sa’ad bin Nabhan wa Awladuhu. Hal. 24

[10] Mau’izhatun Linnas, oleh (tidak disebutkan nama pengarang). Cetak bersama Miftahul Jannah. Cet. Sumber Keluarga, Semarang. Hal 27.