Logo Dayah Pesantren Nihayatul Muhtaj

Font dan Jenis Warna Logo Dayah Nihayatul Muhtaj

==============================================

Logo Nihayatul Muhtaj

 

Logo Nihayatul Muhtaj

Bentuk Segi Enam dimaknai sebagai bentuk yang efektif dan efisien, digunakan sebagai bentuk penyimpanan hal-hal terbaik (seperti penyimpanan madu).

Garis Hijau (diawali dari kanan) proses pencapaian cita diawali dari kanan seperti membaca al-quran atau tindakan lainnya yang sering di awali dengan kanan ke kiri.

Bentuk Lembaran atau garis kokoh (bergelombang/ naik turun) dimaknai Cita-cita melalui proses selalu memiliki tantangan dan hambatan yang digambarkan dengan naik turun dan berusaha tetap istiqamah dengan kebaikan, mengakhiri proses pada posisi kebaikan.
==========

Warna
1. WARNA HIJAU : Menumbuhsuburkan kader-kader islam yang berilmu dan berakhlaqul karimah.
2. WARNA PUTIH : Kesucian, yang berarti menjaga kesucian agama Islam
3. WARNA HITAM : Keilmuan / Netral, berarti menjadi penengah dalam suatu permasalahan atau lembaga
==========

Singkatnya.
Logo ini juga di definisikan sebagai bentuk yang efisien dan efektif, sesuatu yang diawali dari kanan ke kiri, diawali dari Bawah dan berakhir dengan prestasi (atas). Kesucian, keislaman dan keilmuan adalah hal penting diperhatikan disetiap perencanaan dan aplikasi.
==========

Nama Nihayatul Muhtaj terinspirasi dari buku Karya Imam Besar dalam Mazhab Syafi’iy yang sering dijuluki dengan Syafi’iy Kecil. Nama lengkap beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin Abil ‘Abbas Ahmad bin Hamzah Ibnu Syihabuddin Ar-Ramli

========================================

Imam Ar-Ramli (wafat 1004 H)Nama lengkap beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin Abil ‘Abbas Ahmad bin Hamzah Ibnu Syihabuddin Ar-Ramli, lahir di Kairo. Beliau ini pengarang kitab Nihayatul Muhtaj (Nihayah), 8 jilid besar, untuk kitab Al-Mi…nhaj karangan Imam NawawiBeliau diberi nama julukan “Imam Syafi’I kecil” dan Mujtahid kurun ke 10. Kitab karangan beliau Nihayatul Muhtaj yang dikarang dalam abad ke 10. Sebagai komentar syarah dari kitab Al-Minhaj karangan Imam Nawawikitab fiqih besar dalam Mazhab Syafi’I (8 jilid). Di Indonesia kitab ini sangat terkenal dan terpakai dalam perguruan-perguruan Tinggi dan pesantren Syafi’iyyah. Kitab ini setaraf dengan kitab Tuhfatul Muhtaj karya Imam IbnuHajar Al-Haitami (Wafat 946 H) yang juga pensyarah kitab Minhaj Karangan Imam Nawawi (Sumber : Kitab SEJARAH DAN KEAGUNGAN MAZHAB SYAFI’I, Oleh : K.H SIRAJUDDIN ‘ABBAS)
=====
…… Karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua Dimaksudkan dengan karya-karya para ulama Syafi’iyyah generasi kedua ini adalah masa munculnya dua Imam besar yakni Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H) dan Syamsud Din Muhammad ar-Ramli (…w 1004 H).
Besarnya sumbangsih kedua Imam ini terutama dengan syarah keduanya terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi. Berikut adalah karya kedua imam dimaksud,
1. Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj . Buku iniditulis oleh Imam Ibn Hajar al-Haitami sebagai syarah terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi. Buku ini dicetak beberapa kali dan mempunyai dua hasyiyah yaitu Hasyiyahal-Allamah Ahmad bin Qasim al-Ubady (w 994 H) dan Hasyiyah al-Allamah Abdul Hamid asy-Syarwany. Buku ini di antaranya dicetak oleh Darul Kutub al-Ilmiyyah Beirut dengan muhaqiq Syaikh Muhammad Abdul Aziz al-Khalidy—dan tahkikan beliau hemat penulis lebih bagus dan lebih lengkap.
2. Nihayatul Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj . Buku ini juga merupakan syarah dari buku Minhajut Thalibin Imam Nawawi yang ditulis oleh Imam Syamsud Din ar-Ramly . Buku ini juga dicetak beberapa kali serta mempunyai dua hasyiyah yakni Hasyiyah al-Allamah Nurud Din Ali bin Ali asy-Syibramalisi (w 1087 H) dan Hasyiyah al-Allamah Ahmad AbdurRazaq yang dikenal dengan sebutan al-Maghriby ar-Rasyidy (w 1096 H)
Baik buku Tuhfatul Muhtaj maupun Nihayatul Muhtaj merupakan dua buah buku yang banyak dijadikan pegangan oleh ulama Syafi’iyyah dalam menetapkan hukum sebuah persoalan atau dalam berfatwa setelah masa Imam Nawawi. Apabila ada persoalan yang tidak dibahas di kedua kitab itu, maka acuan diambil dari karya-karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari (w 926 H), khususnya kitab al-Manhaj yakni buku ringkasan dari Kitab Minhajut Thalibin dan buku al-Ghurar al-Bahiyyah fi Syarh Mandhumatil Buhjah al-Wardiyyah—kedua buku tersebut telah dicetak.
Kemudian setelahnya adalah kitab Mughnil Muhtaj Ila Ma’rifati Ma’ani Alfadh al-Minhaj karya al-Khatib asy-Syarbini (w 977) yang juga merupakan syarah terhadap kitab Minhajut Thalibin. Buku ini juga dicetak dan sangat terkenal di kalangan madzhab Syafi’i, termasuk dijadikan referensi utama di lingkungan Universitas al-Azhar fakultas Syariah Islamiyyah.
Setelah buku Mughnil Muhtaj, maraji’ fiqh Syafi’i berikutnya adalah buku-buku hasyiyah (hasyiyah adalah syarah dari buku syarah) misalnya hawasyi yang telah disebutkan di atas, juga hasyiyah Qalyuby Umairah karya Syaikh Syihabuddin al-Qalyubi dan Syaikh Umairah yang merupakan syarah dari syarah Imam Jalaluddin al-Mahally terhadap kitab Minhajut Thalibin karya Imam Nawawi.
Apabila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Syamsuddin ar-Ramli, ada perbedaan prioritas antara ulama Mesir dengan ulama Hijaj. Menurut ulama Mesir, maka pendapat ar-Ramli yang harus didahulukan khususnya apa yang tertera dalam kitabnya, Nihayatul Muhtaj. Hal ini karena buku tersebut telah disodorkan, dibaca,diminta kritik serta dibetulkan oleh pengarangnya sendiri kepada 400 ulama. Sehingga dengan demikian, keabsahan buku tersebut dapat dikatakan mutawatir dan karenanya harus lebih didahulukan dari pada yang lainnya. Sedangkan menurut ulama Hijaj, Hadramaut, Syam, Yaman, bahwa yang harus diambil manakala terjadi pertentangan antara ar-Ramli dengan al-Haitami adalah pendapat Ibn Hajar al-Haitami khususnya yang tercantum dalam bukunya Tuhfatul Muhtaj. Hal ini dikarenakan buku tersebut mencakup juga nushush dari Imam al-Haramain al-Juwaini.
Kedua kitab di atas dipandang telah mencukupi sebagai pegangan dalam madzabsyafi’i. Ada dua alasan penting:
1. Banyak para ulama Syafi’iyyah setelah masa Imam ar-Ramli yang memuji dengan sangat kehebatan dan keunggulan dua buah buku tersebut yakni at-Tuhfah dan an-Nihayah. Sehingga para ulama Syafi’iyyah menjadikannya sebagai pegangan utama ketika mereka berfatwa. Salah satunya adalah al-Alamah Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i (w 1194 H) dalam bukunya berjudul al-Fawaid al-Madaniyyah Fiman Yufta Biqaulihi Min Aimmah asy-Syafi’iyyahsebagaimana dikutip dalam buku at-Tahdzib fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i karya Imam al-Baghawi (I/50-51).
2. Kedua Imam Ibn Hajar al-Haitami dan Syamsud Din ar-Ramli dalam kitabnya at-Tuhfah dan an-Nihayah, ketika membahas masalah-masalah fiqh, seringkali menyebut perbedaan pendapat antara Imam Rafi’i dan Imam Nawawi. Disamping karena usaha dan kejuhudan keduanya dalam menggali gagasan-gagasan dan pemikiran fiqh Imam Nawawi dan Rafi’i tidak diragukan lagi. Namun tentu saja tetap lebih baik jika mengkaji pula kitab-kitab Imam Nawawi dan Imam Rafi’i. ………
====
Semoga akan tercapai.
Amin….
======

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s